"Wish Coming True"

Dream. Wish. Love. Faith. and Fight. I Believe.. That's what life is all about..

Showing posts with label photo essay. Show all posts
Showing posts with label photo essay. Show all posts

Shinsekai, Osaka (Review Santai)



Barusan keliling-keliling Shin-sekai sampai ke Tsutenkaku Tower-nya juga. Daerah district tua Shin-sekai ini menurutku menarik sekali untuk dipelajari. Cukup kental unsur historisnya dan punya identitas unik sebagai district yang mencoba tetap mempertahankan identitasnya di tengah-tengah tekanan perubahan kawasan disekitarnya.


Link video Seasoning The Seasons Shinsekai, Osaka: A Town Guarded by a Tower
Nih saya kasih lihat penampakan Shin-sekai pas malem hari :)
Kalau ditinjau dari latar belakang pertama kali district ini berkembang di sekitar tahun 1910-an, yaitu saat dibangunnya Shinsekai Luna Park tahun 1912. Saat itu model areanya dibangun yang sebelah selatan kayak district di New York, terus yang bagian utara dibuat menyerupai Paris. Nah detail bangunan Tsutenkaku Tower yang asli juga mengadaptasi menara Eiffel di bagian atas sama arc de triomphe di bagian bawah pilar penyangganya. Towernya juga terhubung dengan cable car ke Luna Park. Pokoknya saat itu Tsutenkaku dan Luna Park ini jadi pusat hiburan dan tempat paling populer di Osaka, terus karena PDII akhirnya tahun 1943 menara ini kebakaran dan bajanya disumbangkan untuk keperluan perang. Luna Park juga akhirnya ditutup. Herannya karena didorong keinginan untuk mempertahankan simbol Kota Osaka, para tokoh Shin-sekai pada waktu itu menggagas pembangunan ulang Tsutenkaku Tower. Karena kurang dana akhirnya dibuatlah sistem sertifikat kepemilikan dengan cara menyumbangkan uang untuk pembangunan. Keren ya? Karena hal ini dan setelah mengamati banyak tempat cultural dan historis yang "diperdulikan" oleh mereka, saya akui masyarakat Jepang punya self awareness yang tinggi terhadap hal yang menyangkut nilai-nilai historis dan kebudayaan. Terutama yang mewakili identitas mereka sebagai bangsa yang berbudaya. 

Karena para tokoh penggagas tersebut, Tsutenkaku Tower yang baru, hasil dari pembangunan ulang, akhirnya bisa tetap kokoh berdiri hingga sekarang. Merujuk dari wikipedia: Saat ini kawasan Shin-sekai justru terkenal sebagai kawasan pinggiran. Banyak ditemui gelandangan di wilayah sekitar Shin-sekai ini. Ironisnya image-nya jadi beralih dari pusat keramaian paling populer di Osaka menjadi tempat paling berbahaya di Osaka. Katanya banyak orang asli Osaka sendiri yang nggak berani menginjakkan kaki ke daerah ini. Sampai-sampai disebut juga di Lonely Planet agar para visitor selalu waspada atau sebisa mungkin menghindari kawasan di sekitar Shin-sekai. Katanya sih itu karena kriminal jaman-jaman 1990-an, makanya sekarang banyak orang tua gelandangan yang menyebar di daerah ini. Denger-denger dari sumber lain kawasan ini juga pernah dikuasai Yakuza. Pantesan tadi pas keliling ada salah satu toko yang jual jaket ala-ala Yakuza kayak punyanya Makki My Boss My Hero. Wow! 

Terlepas dari bermacam penilaian terhadap Shin-sekai, bagi saya, mempelajari Shin-sekai itu seperti mempelajari keunikan Osaka dari sisi yang berbeda. Menutup review (santai) dari saya, semoga setelah ini nggak ditelpon-telpon terus sama ibu disuruh langsung pulang soalnya baru tau kalau hotel saya ternyata tinggal nyeberang jalan aja dari kawasan paling berbahaya di Osaka ini, wuakakaa, kalau bilang tempatnya bahaya pasti nggak bakalan diijinin.

Kenyataannya alhamdulillah aman kok, yang penting selalu waspada, berdo'a dan terjaga. Bisa jadi tempat paling berbahaya di Jepang itu bagaikan tempat paling aman di Indonesia, hahaa.. 
See you on the next learning while travelling experince ya! 

(Separuh) Cerita dari Negeri Sakura

Berawal dari Impian
Jepang, siapa yang tidak terkesima dengan negeri yang tersohor ini. Negeri yang dikenal dengan tiga julukan sekaligus: Negeri Sakura, Negeri Matahari Terbit, Negeri Samurai. Setiap orang bebas memaknai Jepang, melabelinya dengan segudang julukan.

Jepang bagi saya adalah impian. Salah satu dari trilogi negeri impian saya setelah Arab Saudi dan Jerman. Impian yang secara sadar terus menggelayuti pikiran saya, seolah menuntut jawaban. Hingga suatu hari di tahun 2009, saya berikrar pada diri saya sendiri,“Entah seperti apa caranya, entah itu kapan, selama saya masih hidup, saya harus mewujudkan impian saya ke Jepang, lanjut kuliah atau jadi TKW sekalipun!.”  

Nyatanya Tuhan tak pernah ‘tidur’. Tiga tahun kemudian, di awal Oktober 2012, saat langit cerah Jepang bertaburan momiji musim gugur, Tuhan memeluk impian saya. Sebuah momentum telah mengubah hidup saya, membawa saya tinggal di Jepang selama dua tahun, sebagai mahasiswa master course salah satu universitas yang cukup ternama di Jepang dan sekaligus sebagai penerima beasiswa luar negeri.

Dan inilah (separuh) cerita saya di Negeri Sakura.
Inilah trilogi negeri impian pertama saya yang akhirnya terwujud.
Saya menyebutnya ashita, hari esok yang bersinar.

Lintasan Memori
Masih sering terlintas di ingatan saya ketika pertama kalinya saya menginjakkan kaki di negeri ini. Saat sepatu kets saya mengayunkan langkah perdananya keluar dari pintu kedatangan internasional Fukuoka Airport. Pagi itu, dari kaca jendela Kyushu Sanko Bus yang membawa saya melaju dari Fukuoka ke Kumamoto, sebuah montase dari negeri di salah satu titik di gugusan peta dunia sedang berusaha mendeskripsikan keelokannya melalui indera penglihatan saya. Gedung-gedung tinggi menjulang langit, berjajar rapi di kanan-kiri highway yang super mulus. Serapi jalur hijau pembatas jalan yang tertata membelah highway menjadi dua jalur berlawanan arus. Sepanjang jalan saya melihat deretan bangunan yang entah itu apa, didominasi warna cokelat muda.

Masih di suatu pagi di awal bulan Oktober, sambil memandang takjub dari balik kaca bus Kyu San Ko yang tak berjeda melaju, saya merasakan sesuatu membuncah, jauh di dalam hati saya. 

Kumamoto, Kotanya Kumamon
Inilah Kumamoto, kota tempat saya tinggal. Kota Kumamoto merupakan ibu kota Prefektur Kumamoto yang terletak di Pulau Kyushu, Jepang. Kota dengan luas wilayah 7.400km2 ini berpopulasi sekitar 737.000 jiwa. Dijuluki sebagai Hi no Kuni yang berarti “country of fire”, di wilayah Kumamoto terdapat Mount Aso yang terkenal dengan salah satu kaldera terbesar di dunia dan statusnya masih aktif hingga sekarang. Berkat Mount Aso dan kekayaan alamnya, Kumamoto juga dikenal sebagai “city of forest”, kota dengan sumber air bawah tanah yang jernih dan melimpah ruah.

Setiap kota di Jepang sepertinya punya karakter maskot kotanya masing-masing. Demikian juga dengan Kumamoto yang maskotnya dikenal dengan sebutan Kumamon. Kumamon adalah beruang hitam gendut dengan wajah ramah dan bulatan merah di kedua pipinya. Karakter Kumamon sungguh menggemaskan dan kamu bisa menemukannya dimana saja ketika kamu menelusuri Kota Kumamoto: dalam bentuk makanan, aksesoris, sebagai papan penunjuk arah, atapun terpajang sebagai efek hologram di jendela kaca sebuah kantor bank!. Kumamoto dengan Kumamonnya adalah konsep city branding yang sekaligus menumbuhkan sense of belonging masyarakat yang diaplikasikan dengan sangat menarik.
Kumamoto City
Kumamon  
  
Hologram Kumamon di bangunan bank

Kumamoto Castle dan Kawasan Downtown
Memasuki wilayah pusat Kota Kumamoto, bangunan Kumamoto Castle yang menjadi landmark kota terlihat menyembul gagah diantara kompleks perbelanjaan modern di sepanjang Kamitori-Shimotori. Kumamoto Castle merupakan satu dari tiga kastil utama di Jepang selain Himeji Castle dan Matsumoto Castle. Kompleks Kumamoto Castle terdiri dari beberapa tempat yang bernilai kultural dan historis, diantaranya adalah Kato Shrine, Hosokawa Gyobu Mansion, Kumamoto City Museum, Kumamoto Prefectural Museum of Art, serta Sakuranobaba Johsaien. Di dalam area kastil juga banyak terdapat taman botani tematik khas Japanese Garden dengan beranekaragam jenis tumbuhan. Deretan pohon sakura dan ginkgo rindang riang membingkai sang kastil, membuatnya menghadirkan dua sensasi suasana dramatis yang berbeda saat musim gugur ataupun semi. Di depannya, Sungai Tsuboi mengalir sejajar di sepanjang Naga-Bei, dinding batu 242 m yang membentengi area kastil. Melipir beberapa meter ke arah barat dari Umaya Bridge, sambil menyusuri Sungai Tsuboi lewat Naga-Bei Promenade, kita dapat ‘berkenalan’ dan berfoto dengan tokoh legenda Kota Kumamoto. Patung perunggu Kato Kiyomasa terlihat duduk tegap dengan baju besi lengkap ala samurai di sudut sebelah kanan Miyuki Bridge yang terletak tepat di depan kastil. Tanpanya Kumamoto Castle yang melegenda itu tak akan pernah ada dalam sejarah Kota Kumamoto.
Kumamoto Castle, salah satu kastil terindah di Jepang
Pose bareng Kato Kiyomasa
Sakura di Kumamoto Castle
Kato Shrine, kuil Shinto di dalam kompleks Kumamoto Castle
 
Sakuranobaba Johsaien

Bagi saya yang mengagumi keindahan alam, suasana aliran air Sungai Tsuboi yang mengalir jernih disepanjang Naga-Bei Promenade di area Kumamoto Castle ini secara alamiah mampu menciptakan sentuhan natural diantara geseran futuristik di sekitar kawasan pusat Kota Kumamoto. Adanya perpaduan antara warisan berabad masa lalu (area kastil) dan tawaran kemoderenan masa depan (kawasan shopping arcade) yang diaplikasikan dalam satu bingkaian pusat kota menjadikan kota ini sungguh unik sekaligus menarik di mata saya. Percayalah, kedua perpaduan itu seolah mengajakmu melintasi dua bentang dimensi waktu yang jauh berbeda hanya dalam sekejap mata memandang. Tapi tunggu dulu, semua itu belum seberapa menarik. 

Dari pertigaan jalan raya di seberang kastil, tram, bus kota dan kendaraan lain sibuk berbagi jalur. Kumamoto City Tram yang ‘sengaja’ didesain retro ini akan terlihat melaju dari dan ke arah kastil setiap selang waktu 10 menit, membelok ke Takashibashi (line A) atau Kami Kumamoto (line B). Aktivitas padat pejalan kaki atapun pesepeda juga banyak ditemui di jalanan sepanjang Toricoshuji-Suidocho yang cukup lebar luasan pedestriannya. Di Kumamoto, tak terkecuali di bagian wilayah Jepang yang lain, jalan kaki atau bersepeda hukumnya wajib. Utamanya di kawasan pusat kota, pemandangan orang menggerombol berjalan kaki atau pria pekerja kantoran memakai jas tapi bersepeda adalah hal yang biasa. 

Montase kawasan downtown Kumamoto
Shimotori Shopping Arcade
Nishi-Ginza Street, red district-nya Kumamoto

Keberadaan sarana ruang publik dan ruang terbuka hijau sebagai tempat relaksasi masyarakat dari kepenatan aktivitas harian dan juga sebagai penyeimbang ekosistem kota tampaknya juga sangat diperhatikan oleh Pemerintah Jepang. Di Kumamoto misalnya, area taman banyak bertebaran di setiap beberapa kompleks gedung perkantoran, contohnya Shirakawa Koen yang terletak bersebelahan dengan kantor polisi lokal. Taman yang paling terkenal di Kota Kumamoto adalah Suizenji Koen. Taman yang dapat diakses dengan tram line A dan B yang menuju ke arah Kengunmachi ini merupakan taman klasik khas tsukiyama Japanese Garden dengan miniatur Gunung Fuji, kolam ikan dan Inari Shrine sebagai atraksi penarik wisatawan.

Festival Mizuakari
Sewaktu musim gugur, di setiap awal bulan Oktober, festival tahunan Mizuakari selalu digelar di area taman dan sungai di sekitar Kumamoto Castle. Puluhan ribu lampion ditata diatas potongan bambu yang diukir ukiran cantik lalu dibiarkan mengambang bebas di sepanjang tepian Sungai Tsuboi. Selama dua hari festival, pusat Kota Kumamoto terasa lebih ‘bercahaya’ dan kian semarak. Beruntungnya, musim gugur tahun ini saya berkesempatan menyaksikan festival Mizuakari secara langsung dan berhasil mengabadikan biasan cahaya ribuan lampion dengan lensa kamera saya. Keesokan harinya, agenda Japanese Culture Experience Day: memakai kimono dan upacara minum teh yang dicanangkan oleh Kumamoto International Foundation (KIF) kemudian digelar. Saya, tentu saja tak mau ketinggalan dan turut berpartisipasi lagi tahun ini, untuk yang kedua kalinya.   

Festival Mizuakari dilihat dari Miyuki Bridge
Lampion-lampion lucu
Japanese Culture Experience Day

Semerbak Aroma Suasana di Negeri Empat Musim
Sejak kecil saya sering menerka-nerka, membayangkan bagaimana rasanya menjalani hari di negeri empat musim. Saya, yang sejak lahir ditakdirkan hidup di negara beriklim tropis, hanya pernah mencicipi teriknya matahari di musim panas atau guyuran hujan di musim hujan. Maka ketika tahun lalu saya untuk pertama kalinya melalui hampir empat musim di negeri sakura ini, rasanya seperti mimpi, serasa mencium semerbak aroma suasana yang sungguh berbeda.           
1.   Musim Gugur (Aki). Pertama kali sampai di Jepang, saya disambut semarak warna-warni pohon maple yang di Jepang lebih dikenal dengan momiji. Momiji ini hanya mempertontonkan perubahan warnanya di musim gugur sekali setahun. Perpaduan warna-warni: merah, kuning, oranye pada pohon momiji biasanya mulai bisa dilihat di beberapa wilayah di Jepang sekitar pertengahan September. Selain momiji, jenis pohon khas musim gugur lainnya adalah pohon ginkgo yang berwarna kuning keemasan dengan struktur batang tinggi menjulang seperti pohon cemara. Untuk bisa menikmati momiji dan ginkgo tepat di saat warnanya telah berubah sempurna, kalender perkiraan waktu autumn colors di seluruh penjuru Jepang dapat dijadikan sebagai acuan. Di area Kumamoto sendiri biasanya autumn colors dapat dinikmati antara pertengahan hingga akhir November. Lokasi yang paling tepat? Tentu saja di Kumamoto Castle dan Kumamoto Prefectural Office. Namun, tahun lalu saya mencoba pengalaman yang berbeda dengan mengagumi warna-warni menawan musim gugur dari Takaciho Gorge di Prefektur Miyazaki. Pengalaman musim gugur perdana saya yang sekaligus menjadi pengalaman eksplorasi kota pertama setelah Kumamoto. Menakjubkan! 

Daun pohon ginkgo
Autumn Colours di area Kumamoto Castle
3 warna dramatis musim gugur
Menyempatkan pose alay di Kumamoto University North Campus

2.   Musim Dingin (Fuyu). Memasuki bulan November hingga Februari, Jepang mengalami musim yang kedua yaitu musim dingin. Pada musim ini suhu harian rata-rata bisa mencapai 4-6º C. Nilai suhu spekulasi ini tergantung dimana lokasi kita berada di wilayah kepulauan Jepang. Di Mount Aso misalnya, titik suhu terendahnya bisa mencapai -2º C. Maka ketika saya bermain dengan salju dipos ke 5 Aso-san, meski belum berada di puncak, rasa-rasanya baju lima lapis plus jaket tebal yang membungkus badan tipis saya ini tidak berhasil membuat saya berhenti gemetaran dengan tangan mengenggam erat kairo (koyo penghangat). Bbbr, dinginnya sungguh tidak bisa terdeskripsikan.

Butiran putih halus yang berkilau itu bernama salju. Perlahan ia bertaburan seiring angin dingin yang merasuki sum-sum tulang. Kian lama kian menebal, dengan hembusan angin yang memekat membentuk formasi kabut. Deruannya terdengar mendayu dari daun telinga saya. Saat saya menjamah Mount Aso, sayangnya si salju belum begitu tebal. Hanya berhasil merambati setinggi 2-3cm dari telapak tanah. Harapan saya semoga siang nanti si salju akan menebalkan dirinya.

Meski saljunya masih terbilang tipis, jangan coba-coba mengambil resiko bermain salju dengan perut kosong atau kamu akan terserang kram perut. Untungnya Mount Aso menyediakan beberapa fasilitas termasuk restoran dan fasilitas lain yang menurut saya tidak wajar untuk ukuran sarana wisata pegunungan yang terletak di dataran tinggi. Inilah Jepang! Bagi Jepang sepertinya berlaku rumus: tak ada yang tak mungkin. Hotel, ryokan (penginapan khas Jepang), guest house, hingga spa yang melimpah karena keberadaan sumber air panas dapat ditemui hampir di setiap area pos. Sepaket mie udon, komplit dengan nasi, potongan lobak, acar, dll akhirnya tersaji di hadapan saya, hanya ¥ 600,perut kosong saya kembali terisi. Area pertokoan dikemas tradisional dengan stan-stan kayu. Berbagai imitasi makanan dipajang di etalase kaca lengkap beserta harganya, menggantikan daftar menu makanan yang biasanya ada direstoran-restoran. Akan banyak kamu temui suvenir berbentuk Kumamon di sana, selain Roasso, maskotnya Mount Aso.

Puas makan siang dan belanja suvenir untuk kenang-kenangan, main salju pun dimulai. Beberapa orang terlihat begitu asyik mendesain orang-orangan salju. Melihat tumpukan bola salju, saya justru berimajinasi menuangkan sirup aneka rasa di atasnya, minum es serut ukuran raksasa ooh alangkah lezatnya. Lempar-lemparan salju di kaki gunung juga tak kalah seru lho.     

di lereng Gunung Aso nan bersalju

3.   Musim Semi (Haru). Inilah musim yang paling saya tunggu-tunggu selama separuh masa petualangan saya di Jepang. Musim semi di awal bulan April, waktu bunga sakura mulai bermekaran. Musim yang hanya bisa dinikmati secara singkat karena masa mekar bunga sakura yang juga tergolong singkat, hanya sekitar seminggu sebelum kembali layu dan cuma mekar sekali waktu saja sepanjang tahun. Melewatkan mekarnya sakura tahun ini berarti harus menanti hingga tahun depan saat sakura mekar kembali.

Musim semi bagi masyarakat Jepang adalah musimnya hanami, piknik dibawah pohon sakura. Semua anggota keluarga berkumpul bersama, minum sake dan menikmati hidangan di bawah pohon sakura sambil memandangi bunga cantik berwarna pink itu. Bagi saya dan rekan-rekan PPIJ-Kumamoto, musim semi adalah waktu paling pas untuk mengadakan barbecue di taman tepi Sungai Shirakawa belakang kampus selatan Kumamoto University. Di tepi-tepi jalan yang membentang sejajar dengan sungai, deretan pohon sakura berjajar rapi. Ranting-rantingnya perlahan diusap angin, membawa semerbak kuntum bunga sakura bertaburan bebas di udara. Suasana makin terasa magis dan dramatis. Semua yang ada disana sekejap terbius, terkena candu kemolekan sang sakura. Rasanya tak perlu lagi beranjak ke Kumamoto Castle kalau di tepian Sungai Shirakawa dekat kampus saja sudah sedramatis ini. Ujung-ujungnya beberapa dari kami tetap pergi ke kastil karena didera rasa penasaran menyaksikan secara langsung bagaimana tradisi orang Jepang yang disebut hanami itu. 

Bunga sakura
Pengalaman perdana menyentuh sakura

4.    Musim Panas (Natsu). Sayang sekali, saya hampir tidak pernah merasakan sensasi musim panas selama di Jepang. Itu karena sejak awal musim panas tahun ini saya mengikuti sebuah program International Summer School di Seoul, Korea. Cerita musim panas di negeri sakura dilewati dulu ya.

Akhirnya (separuh) cerita telah dimaknai dan dibagi arti. Hanya tersisa (separuh) cerita lagi untuk segera diakhiri. Ditulis dari negeri dimana sakura masih menyembunyikan kemolekan kuntumnya, semoga (separuh) cerita ini menginspirasi. NB: Selamat menghidupkan impian! 

Feel Korean Experience with Summer School

      For many times, I feel impressed by this rare opportunity to join in an international summer school program which held outside Japan. Last August, 2013, represent Kumamoto University, I went to South Korea for the first time to participate in International Summer School II, held by University of Seoul (UOS). The participants of this summer school program were mostly consists of Japanese students from all over universities in Japan, 2 Chinese students, and me, the one and only Indonesian.
    Actually, the summer school program divided into four kinds of courses, Korean Language Course (Hangul), Korean Studies Course (cultural and diplomacy), Cultural Course, and Field Trips at several iconic places in Korea, including the legendary Jeju Island. Because of my limited capability in Japanese language, unfortunately, I only took the morning class, 1-1 Beginner Level class. It was because the Korean Studies Courses were given in advanced Japanese language and I thought I could not do the tasks which needed to be written in Kanji. In Korean Language class, I learned to write, reading, doing conversations and make sentences with Korean language.

 Hangul experience, attend Korean Language class to learn Hangul

      Besides studied language theory in class, studying Korean culture and tradition while travelling was what I got from Cultural Course and Field Trips. We went to historical building and places in both Seoul and Jeju Island, such as Chang Deok Gung Palace, Korea House, Altar in Mt. Sanbangsan, Jeju traditional house in Seongeup Folk Village, and lastly, Jeju Folklore & Natural History Museum. At Korea House, we made Korean traditional craft of hand mirror used Hanji (Korean traditional paper), wearing Hanbok (Korean traditional dress), and finally had a chance to taste Korean traditional foods called bibimbap. Taste Korean traditional culture while enjoying the traditional atmosphere at Korean traditional house has left me with such indescribable feeling ever.

 Hanbok experience, wearing Korean traditional clothes at Korea House


 Hanji experience, making handcraft with korean paper called hanji






 Chang Deok Gung Palace, was served as the residence for many kings
      
    Another days in Seoul, I also enjoyed another taste of Korean cuisine: ddeokbokki, namyun, samgyetang, and the most interesting ones was when we experienced the cooking class, together with Korean buddies, cooking bulgogi and capcae. Some Korean non-verbal comedy shows which incorporate traditional samul nori rhythm called “Nanta”, or Korea’s martial arts like “Jump” were also had impressed me toward their totality in entertaining audiences and express the ‘truly taste’ of Korean show to inexperienced foreign (like us) at the same time. Next day, we also had a chance to play traditional music instrument used in Nanta, that is samul nori, by formed one team for our individually performance.       

Bibimbap,
mixed rice and vegetables with spicy sauce, my Korean Buddy said that bibim means mixed and bap means rice

  Ddeokbokki, steamed rice cake in spicy sauce, one of fenomenal dish from Korea

 Take a chance to playing samul nori

  Insa-dong street, one of my favourite place in Korea,
famous with traditional antique shop, art galleries

     Once, my Korean buddy named Sohee, ever told me about 3 phrases that must be experienced if I want to know about Korean’s truly, it is Hangul, Hanbok, Hanji, where Han means Korean. Now, I could say proudly that I already had through those 3 experiences when I joined UOS International Summer School II.       
      Learning new things is always become my interest, and when I was in Korea I think I had gained a lot of important experiences. There, I learned directly about characteristics of Korean’s life as a whole, their culture, tradition, language, behaviors, which all have been fused in Korean people’s daily life. I am impressed by Korean people, all Korean buddies, staffs, teachers in this summer school program are warm, kind and fun. I also have a really good time with my Japanese friends, whom I met for the first time there. They help me a lot, especially towards my Japanese language barrier. This summer school not only gives me a bunch of unforgettable moments, but also has blessed me with a lot of new friends. In addition to both Korean and Japanese, I made a friend with Spaniards, Singaporeans, Pakistani, and also had a chance to gathering with Indonesian who still studies in UOS.

  Tracking at Seopjikoji in Jeju Island, 
which featured with savanna, retro chapel and lighthouse tower

With my Korean and Japanese buddies at Mt. Sangbangsan

      Aside from what I had gained, of course I had some obstacles when I was joined this summer school program: language barrier, weather condition, adaptation matters on early arrival at Korea, food, etc. But, it thanks to them who help, support and encourage me, so I can really enjoy my summer time in Korea through UOS International Summer School II and only left with almost good memories behind.     

Jeju Island as One of the World Natural Heritage

The first time I knew about Jeju Island was in 2011, when it became a contestant from South Korea in New Seven Wonders of Nature Global Festival. Back then, my home country, Indonesia, had also nominated Komodo Island as the contestant. These two islands then become the provisional New Seven Wonders of Nature with the five others. It is said that Jeju Island has been chosen as the second most beautiful scenery around the world and get a recognition as one of the world natural heritage by UNESCO. In consequence of a sense of rivalry in New Seven Wonders Festival, since then I have the curiosity in how Jeju Island’s wonders can attract people from all over the world to come. What are the island practically have to make people come? How great is its landscape and how unique is Jeju indigenous way of life? At that time I just have a thought, how is the feel of exploring the island directly?

Luckily, a chance came for me to visit Jeju Island on August 16-18th, 2013. Still prepared with some curious thoughts, my adventure time in Jeju Island had finally begun. On the first day, we went to Mt. Sanbangsan which region are consists of several altars of prayer for honor, for life, for love and for a good health. Mt. Sanbangsan is well known for its auspicious topography, resembling a hen sitting on golden eggs. My impression against the Mt. Sanbangsan: I think it is a great place where we can feel both of mountainous and sea scenic landscaping while sense the spirituality at the same time.

Figure 1. Mt. Sanbangsan and its surrounding areas

The second place that attracts me is Daepo Jusangjeolli Cliff (World Geopark) which has quite fascinating landscapes. The trails are made from wood and designated to show the coastal cliffs from the best side. It is a best place to observe the rocky cliffs which were formed by the scenic volcanic formation that run along the coastline.

Figure 2. Daepo Jusangjeolli Cliff were run along the coastline

Jusangjeolli Cliff is not the only one trail in Jeju Island which has such a wonderful and fascinating landscapes showed both mountainous and sea scenic landscaping. There is also a trail called Seopjikoji which seemed to divide its region by wide savanna most on the left side and sea on its right side. In this place we can also see a retro chapel and lighthouse tower, makes the scenic ambience to be more dramatic.

Figure 3. Seopjikoji with its savanna, retro chapel and lighthouse tower

Our adventure then take us to the Manjanggul lava tubes which is designated as one of the World Heritage Site by UNESCO in 2007 and it is become the 2nd UNESCO TRIPLE CROWN after Mt. Hallasan. The existing formation was caused by the eruption of Geomunoreum which then forming tunnels on the ground known as lava tubes. When we observed the rocky wall, the ancient lava flow had been clearly visible on the wall. The underground cave in Manjanggul lava tubes features some unusual rock formation.

Has become the 3rd of UNESCO TRIPLE CROWN and certified as the world geopark, here is Seongsan Ilchulbong Tuff Cone (Sunrise Peak). It is a peninsula rock like a crown called tuff that compress the volcanic mass. Seongsan Ilchulbong Tuff Cone famous for its magnificent view of the rising sun that can be seen from its peak. When I was there, though I did not do a tracking until the up of the tuff, I can feel the sense of landscaping from this place that makes it certified as the world geopark.

Figure 4. Seongsan Ilchulbong Tuff Cone, the one of world geopark in Jeju Island

After exploring that hidden treasure of natural landscapes beneath the very surface of Jeju Island, I wonder how are their traditional community live and have deal with their natural environment. Actually, the expected answer is somehow lied on Seongeup Folk Village. In this traditional village that showed the actual tradisional housing of Jeju traditional community, it can be encluded that Jeju traditional community still have kind of local wisdom applied in their daily life and they tend to maintain their traditional cultures and customs until nowadays.

Figure 5. Jeju traditional house in Seongeup Folk Village

As a result of several direct observing, exploring and adventuring, from my point of view, I implied that Jeju Island deserves to be the one of the World Natural Heritage and get the UNESCO TRIPLE CROWN in UNESCO natural science area. Jeju Island not only an island with fascinating landscapes, but also an island which concern to maintain its traditional cultures and customs in daily life. It thanks to this UOS International Summer School II, I can learn such an important lesson, especially about Jeju Island as the one of South Korea pride.